Sabtu, 18 Juni 2011

MOTIVASI PENDIDIKAN



Untuk Apa Pendidikan?

Pertanyaan ini niscaya menimbulkan beragam jawaban, sebab pendidikan merupakan dasar dari pengetahuan, moral, kompetensi dan atau keterampilan (life skill) seseorang. Karena itu berbicara tentang pendidikan maka tidak bisa dilepaskan dengan tiga aspek pokok, yakni kognisi, afeksi dan psikomotor.

Melalui tulisan ini saya  ingin menyampaikan tanggapan atas tulisan Bp Bustari (SM, 23/4/11) mengenai  penggugatan dan pengamatan beliau atas ’’profesi suci’’ guru yang saat ini telah terdistorsi oleh budaya instan demi meraih benefit (keuntungan material).


Guru atau dosen, bukanlah pekerjaan biasa yang hanya berdasakan transaksional antara skill/tenaga dengan bayaran tertentu. Pekerjaan guru sungguh sangat mulia, sebab di dalam kegiatannya penuh dengan visi dan misi suci demi penyelamatan bangsa dan negara.


Bangsa dan negara hanya dapat berlangsung keberadaannya (eksistensialnya) manakala pendidikan di negara tersebut menghasilkan masyarakat yang cerdas. Dan masyarakat yang cerdas intelektualnya, cerdas moralnya, cerdas spiritualitasnya dan kreatif tidak mengkin lahir tanpa peran guru yang cerdas dan inovatif.  Masyarakat yang cerdas adalah salah satu dari pada tujuan pendirian negara kita.


Pertanyaan, bagaimana ukuran bangsa yang cerdas? Manusia yang cerdas sangat terkait dengan keberhasilan di bidang pembangunan sumber daya manusia (human development index). Pembangunan manusia menurut United Nations Development Programme (UNDP), adalah suatu proses untuk memperbanyak pilihan bagi penduduk, kebebasan untuk hidup lebih sehat, lebih berpendidikan, dan dapat menikmati standar hidup yang layak.


Menurut Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, seseorang dapat dikatakan ’’miskin’’ jika dirinya tidak memiliki banyak pilihan dalam hidupnya. Pembangunan manusia akan dikatakan berhasil jika mampu memperbanyak pilihan-pilihan bagi penduduknya. Jadi, seorang sarjana kita anggap sudah berpendidikan tinggi, tetapi itu saja tidak cukup jika dirinya tidak memiliki banyak pilihan ketika memasuki pasar kerja.


Untuk menilai apakah kinerja pembangunan manusia di Indonesia sudah baik atau belum, perlu mengacu pada data. Laporan Pembangunan Manusia 2010 yang dikeluarkan UNDP menunjukkan bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 108 dari 169 negara yang tercatat. IPM merupakan indeks komposit yang mencakup kualitas kesehatan, tingkat pendidikan, dan kondisi ekonomi (pendapatan). Di lingkup ASEAN, Indonesia hanya berada di peringkat 6 dari 10 negara. Peringkat ini masih lebih rendah dari Singapura (27), Brunei Darussalam (37), Malaysia (57), Thailand (92), dan Filipina (97).


Sementara untuk tingkat pendidikan, Indonesia bahkan hanya berada di peringkat ke-7 dari 10 negara anggota ASEAN. Dengan mengetahui HDI/IPM, dapat digunakan untuk menentukan ranking kesejahteraan suatu bangsa dibandingkan bangsa-bangsa lainnya.


Indeks pembangunan manusia Indonesia sangat dipengaruhi oleh SDM kita di bidang pendidikan. Sebab ditangan para guru/dosenlah negeri ini akan lebih maju atau justru malahan mundur peradabannya. Guru/dosen adalah sumber enlightment (pencerahan) bagi bangsa,  ketika seorang guru/dosen tidak lagi memiliki idealisme dan jiwa nasionalisme yang tinggi maka itu artinya keruntuhan suatu peradaban bangsa sudah di ambang pintu. Apalagi jika motivasi menjadi guru/dosen hanya sekadar sebagai pekerjaan biasa yang tiap bulan mendapat gaji, maka guru/dosen seperti ini lebih cocok bekerja di pabrik saja, yang hanya memproduksi benda mati.


Memang guru bukan faktor satu-satunya dalam matarantai pendidikan, sebab di sana masih ada kurikulum dan sarana/prasarana kegiatan belajar, tetapi bagaimanapun guru yang baik tetap lebih penting dari sekadar kurikulum dan sarana/prasarana. Kurikulum dan sarana/prasarana boleh saja kurang baik tetapi guru/dosen ’’harus’’ lebih tahu bagaimana cara mengajar yang lebih baik dengan segala keterbatasannya. Pendidikan adalah misi suci negara, jadi jangan direduksi menjadi kegiatan bisnis yang senantiasa berhitung untung rugi dan benefit lainnya.


Suprayitno

Ketua LP3N, Sekretaris FPSP
Jl Tlogomukti Timur I/878
Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar